Jumat, 06 November 2026


BHINNEKA TUNGGAL IKA: WARISAN KEBIJAKSANAAN LELUHUR MENEMBUS SEKAT PERBEDAAN

Oleh: Budiono – Penyuluh Agama Buddha

Pendahuluan

Indonesia merupakan bangsa yang dianugerahi keberagaman luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke, terbentang berbagai suku, bahasa, adat istiadat, budaya, dan agama yang menjadi kekayaan sekaligus identitas bangsa. Keberagaman tersebut bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan anugerah yang perlu dijaga dan dirawat bersama. Di tengah berbagai perbedaan tersebut, terdapat sebuah semboyan luhur yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.

Semboyan ini bukan sekadar rangkaian kata yang tertulis pada lambang negara Garuda Pancasila. Lebih dari itu, Bhinneka Tunggal Ika merupakan warisan kebijaksanaan leluhur yang mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk terpecah belah. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disertai sikap saling menghormati, memahami, dan menghargai satu sama lain.

Nilai luhur ini memiliki keselarasan dengan ajaran Buddha yang menekankan pentingnya cinta kasih (Metta), kasih sayang (Karuna), toleransi, serta kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai kondisi kehidupan. Dengan demikian, semangat Bhinneka Tunggal Ika dapat menjadi jalan untuk membangun kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, dan penuh kepedulian.

Bhinneka Tunggal Ika: Kebijaksanaan Leluhur yang Tetap Relevan

Bhinneka Tunggal Ika berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada masa Kerajaan Majapahit. Ungkapan tersebut mengandung pesan mendalam mengenai persatuan dalam keberagaman, khususnya dalam kehidupan masyarakat yang memiliki keyakinan dan tradisi berbeda.

Kebijaksanaan yang diwariskan oleh para leluhur ini menunjukkan bahwa kehidupan harmonis tidak harus dibangun dengan menyeragamkan segala sesuatu. Setiap kelompok masyarakat memiliki identitas, tradisi, dan keyakinan masing-masing yang patut dihormati. Persatuan justru tumbuh ketika setiap orang mampu menerima keberadaan orang lain tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai perbedaan pandangan, kebiasaan, bahasa, maupun cara menjalankan tradisi keagamaan. Perbedaan tersebut merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Namun, persoalan muncul ketika seseorang merasa bahwa kelompoknya paling benar, paling baik, atau paling pantas dihargai dibandingkan kelompok lainnya.

Sikap demikian dapat menimbulkan prasangka, kesalahpahaman, bahkan konflik sosial. Oleh karena itu, kebijaksanaan leluhur melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika perlu terus dihidupkan, bukan hanya sebagai pengetahuan sejarah, tetapi sebagai pedoman moral dalam membangun hubungan antarmanusia.

Perspektif Ajaran Buddha: Menghargai Perbedaan dengan Cinta Kasih

Dalam ajaran Buddha, cinta kasih merupakan salah satu landasan penting untuk menciptakan kehidupan yang damai. Cinta kasih atau Metta mengajarkan seseorang untuk mengembangkan niat baik kepada semua makhluk tanpa membeda-bedakan latar belakang, kedudukan, suku, maupun keyakinan.

Buddha mengajarkan dalam Karaniya Metta Sutta agar seseorang mengembangkan pikiran penuh cinta kasih kepada semua makhluk tanpa terkecuali. Semangat ini mengingatkan kita bahwa setiap makhluk menginginkan kebahagiaan dan tidak ingin mengalami penderitaan.

Apabila nilai Metta diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang tidak akan mudah membenci orang lain hanya karena perbedaan agama, budaya, atau pandangan. Ia akan berusaha memahami, menghargai, dan memperlakukan sesama dengan baik.

Selain Metta, terdapat pula ajaran Karuna atau kasih sayang. Karuna mendorong seseorang untuk memiliki kepedulian terhadap penderitaan orang lain dan berusaha membantu tanpa memandang perbedaan identitas. Ketika ada tetangga yang mengalami kesulitan, misalnya, kepedulian hendaknya hadir tanpa terlebih dahulu mempertanyakan apa agama atau suku orang tersebut.

Ajaran Buddha juga mengenal empat sifat luhur atau Brahmavihara, yaitu:

1. Metta (Cinta Kasih): Mengembangkan niat baik dan mengharapkan kebahagiaan bagi semua makhluk.

2. Karuna (Kasih Sayang): Memiliki kepedulian terhadap penderitaan makhluk lain.

3. Mudita (Turut Berbahagia): Ikut bersukacita atas kebahagiaan dan keberhasilan orang lain tanpa iri hati.

4. Upekkha (Keseimbangan Batin): Mengembangkan pikiran seimbang, bijaksana, dan tidak mudah terbawa oleh kebencian maupun prasangka.

Keempat sifat luhur tersebut sangat relevan dalam membangun kehidupan masyarakat yang beragam. Dengan mengembangkan Brahmavihara, seseorang belajar untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang dalam menjalin persaudaraan.

Menembus Sekat Perbedaan melalui Toleransi dan Keharmonisan

Toleransi bukan berarti seseorang harus meninggalkan keyakinannya sendiri atau menyamakan seluruh ajaran agama. Toleransi berarti memiliki kesediaan untuk menghormati hak orang lain dalam menjalankan keyakinan dan tradisinya masing-masing.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, sikap toleransi dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana. Menghormati tetangga yang sedang melaksanakan ibadah, menjaga ketenangan lingkungan ketika umat beragama lain merayakan hari besar keagamaan, serta tidak merendahkan tradisi budaya kelompok lain merupakan contoh nyata penerapan nilai Bhinneka Tunggal Ika.

Demikian pula dalam kehidupan sosial, semangat persatuan dapat diwujudkan melalui gotong royong, kerja bakti, membantu korban bencana, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Ketika masyarakat bekerja bersama untuk kepentingan umum, sekat-sekat perbedaan menjadi tidak relevan. Yang lebih utama adalah kepedulian, kebersamaan, dan tujuan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Dalam perspektif Dhamma, tindakan tersebut merupakan kesempatan untuk mempraktikkan kebajikan. Kebajikan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan puja bakti atau pembacaan paritta, tetapi juga melalui ucapan yang baik, pikiran yang penuh cinta kasih, dan perbuatan yang membawa manfaat bagi sesama.

Dengan demikian, seseorang yang benar-benar memahami Dhamma hendaknya mampu menjadikan ajaran Buddha sebagai pedoman dalam membangun hubungan harmonis dengan seluruh lapisan masyarakat.

Persatuan Tidak Harus Menghilangkan Keberagaman

Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa persatuan bukan berarti keseragaman. Indonesia tidak harus memiliki satu bahasa daerah, satu budaya, atau satu tradisi untuk dapat hidup sebagai bangsa yang bersatu. Justru kekuatan Indonesia terletak pada kemampuannya merangkul berbagai perbedaan dalam satu identitas kebangsaan.

Setiap suku memiliki kekayaan budaya, setiap daerah memiliki kearifan lokal, dan setiap kelompok masyarakat memiliki tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa. Semua itu merupakan kekayaan yang patut dilestarikan selama membawa nilai-nilai kebaikan dan tidak bertentangan dengan prinsip kehidupan bersama.

Dalam kehidupan beragama, umat Buddha juga perlu mengambil bagian dalam menjaga kerukunan. Menjadi umat Buddha yang baik bukan hanya ditunjukkan melalui pemahaman terhadap kitab suci, tetapi juga melalui perilaku yang mencerminkan kebijaksanaan, kesabaran, kejujuran, dan cinta kasih.

Jangan sampai seseorang rajin menjalankan kegiatan keagamaan, tetapi masih menyimpan kebencian terhadap orang yang berbeda keyakinan. Praktik Dhamma seharusnya membawa perubahan positif dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan.

Sebagaimana semangat yang terkandung dalam Dhamma, seseorang hendaknya terus melatih diri untuk mengurangi keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Ketika kebencian dikurangi dan kebijaksanaan dikembangkan, seseorang akan lebih mudah menerima perbedaan serta membangun hubungan yang harmonis.

Menjaga Warisan Leluhur untuk Generasi Mendatang

Bhinneka Tunggal Ika merupakan warisan kebijaksanaan yang harus dijaga oleh seluruh generasi. Tantangan kehidupan modern, termasuk perkembangan teknologi informasi dan media sosial, membuat masyarakat semakin mudah berinteraksi. Namun, kemudahan tersebut juga dapat menimbulkan persoalan apabila tidak disertai kebijaksanaan.

Informasi yang mengandung ujaran kebencian, penghinaan terhadap agama, dan provokasi antarkelompok dapat menyebar dengan cepat. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran untuk menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

Umat Buddha hendaknya menerapkan prinsip ucapan benar (Samma Vaca) dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media digital. Sebelum menyampaikan atau membagikan suatu informasi, penting untuk mempertimbangkan apakah informasi tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik.

Jangan sampai media sosial menjadi sarana untuk menyebarkan kebencian dan memperbesar perbedaan. Sebaliknya, jadikanlah media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan pesan perdamaian, memperkenalkan nilai-nilai kebajikan, dan membangun semangat persaudaraan.

Generasi muda juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga persatuan bangsa. Mereka perlu memahami bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus dirawat. Dengan pendidikan, keteladanan, dan pembiasaan sikap saling menghormati, nilai Bhinneka Tunggal Ika dapat terus hidup dalam kehidupan masyarakat.

Penutup: Berbeda dalam Identitas, Bersatu dalam Kebaikan

Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk belajar memahami satu sama lain. Warisan kebijaksanaan leluhur ini sejalan dengan nilai-nilai luhur ajaran Buddha yang mengutamakan cinta kasih, kasih sayang, kebijaksanaan, dan keharmonisan.

Sebagai umat Buddha sekaligus bagian dari bangsa Indonesia, sudah sepatutnya kita ikut menjaga persatuan melalui tindakan nyata. Menghargai perbedaan, menghindari kebencian, membantu sesama, menjaga ucapan, serta membangun hubungan baik dengan seluruh masyarakat merupakan bentuk pengamalan Dhamma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita tidak harus memiliki keyakinan, budaya, dan tradisi yang sama untuk dapat hidup berdampingan. Kita hanya perlu memiliki kesadaran bahwa setiap manusia berhak dihormati dan setiap perbedaan harus disikapi dengan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, persatuan bukan dibangun dengan menghapus perbedaan, tetapi dengan menumbuhkan rasa saling menghargai di tengah perbedaan. Marilah kita menjadikan Dhamma sebagai penerang dalam kehidupan, serta menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat untuk merawat persaudaraan.

Berbeda bukan berarti bermusuhan. Beragam bukan berarti terpisah. Kita dapat berjalan bersama dalam cinta kasih, kebijaksanaan, dan persatuan demi Indonesia yang damai dan harmonis.

Namo Buddhaya.

```

BHINNEKA TUNGGAL IKA: WARISAN KEBIJAKSANAAN LELUHUR MENEMBUS SEKAT PERBEDAAN Oleh: Budiono – Penyuluh Agama Buddha Pendahuluan In...